Cerita Rakyat: Misteri Pohon Kelapa - Habibi Zaidan

Cerita Rakyat: Misteri Pohon Kelapa

Cerita Rakyat: Misteri Pohon Kelapa

Konon pohon kelapa di Desa Paker, Kabupaten Bantul, lebih istimewa dibanding pohon kelapa di desa lainnya. Mengapa itu bisa terjadi? Yuk kita simak kisahnya.

Misteri Pohon Kelapa

Dahulu kala, ada seorang bangsawan sakti bernama Ki Ageng Paker. Saat terjadi perang saudara di Majapahit, Ki Ageng Paker memilih meninggalkan kerajaan dan mengembara ke barat. Ki Ageng Paker akhirnya tiba di Hutan Mentaok di dekat Sungai Opak. Beliau menetap dan menyamar dengan menggunakan nama Ki Wongsoyudha. Pada suatu pagi, tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah Ki Wongsoyudho.  “Permisi, permisi”. “Ada keperluan apa kisanak?” “Mohon bantuannya Ki, anak saya si Kuncung tidak bisa berjalan setelah jatuh!” “Aduh kakiku sakit Ki,  tadi kepleset di sawah karena mencari belut!” timpal si Kuncung. Ki Wongsoyudho kemudian memijat kaki si Kuncung dengan perlahan. Tak berapa lama efeknya langsung terasa. “Wah, kakiku langsung sembuh” teriak si Kuncung kegirangan. Kebaikan dan kesaktian Ki Wongsoyudho dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah.

Sementara itu di Kerajaan Majapahit, raja yang memenangkan perang saudara yaitu  Raja Ranawijaya, mendengar kabar kesaktian ki Wongsoyudho."Tentulah orang sakti itu Ki Ageng Paker, yang telah bertahun-tahun meninggalkan istana! Dia layak untuk menjadi penasihatku!". Maka Raja Ranawijaya memutuskan berkelana ke arah barat mencari orang sakti itu. Selama masa pengembaraannya, dia berganti nama menjadi Ki Senu.

Pada siang yang terik, tak jauh dari rumah Ki Wongsoyudha, Ki Senu bertanya kepada seorang anak yang bermain orog bambu. "Nak, kalau boleh tahu, di mana rumah orang sakti itu berada?"
"Mencari Ki Wongsoyudha ya pakdhe? Itu ada rumah yang sangat sederhana. Disanalah beliau tinggal." 


Saat tiba di rumah Ki Wongsoyudha, Ki Senu disambut dengan hangat. “Kisanak ini dari mana?" sambut Ki Wongsoyudha. "Aku datang dari Majapahit," jawab Ki Senu terus terang.Namun Ki Wongsoyudha tidak terkejut sedikit pun. "Istriku! Ada tamu dari jauh, jeranglah air untuknya!" pinta Ki Wongsoyudha kepada istrinya. Ki Senu hilang kesabaran. la ingin membuktikan jati diri Ki Wongsoyudha dengan cara adu kesaktian. "Ki Wongsoyudha, mengapa kau menyusahkan istrimu? Lihatlah ada cara yang lebih mudah" ujar Ki Senu.

Tiba tiba wuss! Sepucuk keris kecil atau patrem terbang dari tangannya. Mengarah tepat pada untaian buah kelapa. Akibatnya buah kelapa jatuh semuanya. "Hmm mudah bukan?" ucap Ki Senu sambil tersenyum sombong. "Usahamu memang bagus kisanak. Namun lebih baik memetik sesuai yang kita butuhkan saja." jawab Ki Wongsoyudha. Ki Wongsoyudha kemudian mendekati sebatang pohon kelapa. Ditepuk-tepuknya sebanyak tiga kali. Puk puk puk. Tiba-tiba pohon kelapa itu meliukkan batangnya sampai ke tanah. Dengan begitu, Ki Wongsoyudha dapat dengan mudah memetik sebutir kelapa. Usai dipetik, pohon kelapa itu kembali berdiri seperti semula. 

Melihat kejadian Istimewa tersebut Ki Senu berkata "Kau sungguh sakti. Tapi sayang, kesaktianmu tak bisa dirasakan oleh warga sekitar!" . Ki Wongsoyudha diam sejenak. Tak lama kemudian angin bertiup kencang menerpa pohon kelapa di desa tersebut. Wussss wusss wuusss. Kemudian beliau berseru "Dengarlah hai seluruh warga, mulai saat ini seluruh pohon kelapa di desa ini menjadi lebih kuat dan tak akan patah. Bila dideres, niranya akan jauh lebih banyak dan hasil gula akan cepat laku dan habis."
Saat itu pula, warga desa beramai-ramai menderes pohon kelapa. Apa yang dikatakan oleh Ki Wongsoyudha memang sungguh-sungguh terjadi.

Ki Senu menjadi berang. Ia kemudian bertanya "Namun, apakah dari hasil menderes itu, warga bisa menjadi kaya?""Aku memang tak mengajarkan mereka menjadi kaya. Karena aku yakin, kebahagiaan itu bukan pada harta dan kekuasaan, namun pada hati. Apakah menjadi raja yang berlimpah harta, kau merasakan kebahagiaan itu?" Ki Wongsoyudha balik bertanya. Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu, Ki Senu kaget. Dia pun mengakui kesaktian Ki Wongsoyudha dan memutuskan menimba ilmu kepadanya.

Jadi teman-teman, untuk bahagia tidak harus punya harta berlimpah. Hidup sederhana pun bisa bahagia. Karena bahagia itu ada didalam hati. Selain itu hidup harus seperti pohon kelapa, dimana selalu bermanfaat bagi masyarakat.