Cerita Rakyat: Sebuah Desa Bernama Kasuran - Habibi Zaidan

Cerita Rakyat: Sebuah Desa Bernama Kasuran

Cerita Rakyat: Sebuah Desa Bernama Kasuran



Tahu tidak teman-teman, ada sebuah desa yang penduduknya tidak punya kasur. Desa ini benar-benar ada di Yogyakarta, tepatnya di Desa Kasuran, Sayegan, Sleman.  Disana terdapat sebuah mitos. Jika ada yang tidurnya memakai kasur maka bisa kena sial. Apakah ada unsur sihir, uka uka, ilmu hitam di desa itu? Mari kita dengarkan ceritanya.

SEBUAH DESA BERNAMA KASURAN

Pada suatu sore yang cerah, Sunan Kalijaga ingin singgah di suatu desa untuk beristirahat setelah s  eharian berkelana. Di pinggir desa dia bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain bekel, bentik, dakon, egrang serta orog bambu. Kemudian Sunan Kalijaga bertanya kepada salah satu anak yang sedang bermain. "Apa nama desa ini nak?""Desa ini desa kasuran pak, bapak mau ketemu siapa?" “Aku ingin bertemu sesepuh Desa Kasuran ini?” “Oh namanya Kyai Kasur, rumahnya ada di ujung jalan itu, rumah yang ada kentongannya!”

 Kemudian Sunan Kalijaga segera menuju rumah Kyai Kasur.


Tok tok tok tok. Klontong klontong klontong. Disana terdapat bel pintu dari klontong sapi.

"Permisi. Apakah benar ini rumah sesepuh Desa Kasuran?""Kisanak tidak keliru. Kalau boleh bertanya, siapakah Kisanak ini?" tanya Kiai Kasur dengan hormat. "Saya Kalijaga, dari Demak. Kalau diperkenankan, saya hendak menginap semalam saja." Astaganaga. Mendengar nama Sunan Kalijaga, Kiai Kasur tampak sangat terkejut. “Mohon maaf kanjeng sunan, mari silakan masuk. Perkenankan saya menyiapkan kamar untuk Kanjeng Sunan." Kyai Kasur segera menata kamar yang terbaik untuk Sunan Kalijaga. Ada kasur, bantal serta guling. Pada waktu itu kasur merupakan hal yang istimewa.
Setelah bersantap makan malam, Sunan Kalijaga berangkat tidur di kamar yang disediakan.

Kukuruyuk, Kukuruyuk, petok petok

Keesokan harinya, sebelum meneruskan perjalanan, Sunan Kalijaga berbincang-bincang dengan Kiai Kasur. Mereka berbincang sambil menikmati wajik, jadah, tape ketan serta minuman dawet.
 

"Kiai Kasur, aku sangat berterima kasih atas semua kebaikan yang engkau berikan. Sungguh aku memperoleh pelajaran yang berguna." "Saya justru yang harus berterima kasih, Kanjeng.Namun, maafkan saya lancang bertanya, pelajaran apakah yang Kanjeng peroleh?" "Makanan yang lezat dan tidur di atas kasur sungguh sangat nikmat bagi musafir seperti aku. Tidak sepantasnya aku menerima kebaikan seperti yang kau berikan." Mendengar perkataan Sunan Kalijaga seperti itu, perasaan Kiai Kasur menjadi tidak enak.

"Engkau jangan gusar, Kiai. Aku memang agak heran dengan keadaan di desa ini. Walaupun penduduk di desa ini banyak yang miskin, mereka ternyata biasa tidur dengan kasur dan guling. Apakah demikian keadaannya, Kiai?" "Benar, Kanjeng. Namun, apa yang salah dengan semua ini? "Maafkan aku bertanya seperti itu. Rasanya tidak pantas seseorang tidur di atas kasur yang empuk sementara hidupnya susah dan miskin. Tidur bernyaman-nyaman di atas kasur tidak membuat orang prihatin. Apakah saya keliru, Kiai?" "Tiada yang kurang, Kanjeng. Benar apa yang Kanjeng katakan."


Kiai Kasur kemudian terdiam. Ada perasaan malu menyelinap di hatinya. "Agar kemiskinan di desa Kasuran ini dapat dikurangi, aku meminta penduduk desa ini mau bekerja keras dan suka prihatin. Untuk itu, jangan suka tidur di atas kasur." "Selain itu, jangan sekali pun penduduk di sini tidur di atas kasur jika mereka tidak dapat menyamai kesaktianku. lngatlah itu, Kiai." "Akan kami laksanakan, Kanjeng. Semua petuah Kanjeng Sunan adalah mustika bagi hidup warga Desa Kasuran."

Ayo kumpul Tok tok tok tok tok
 

Sepeninggal Sunan Kalijaga, Kiai Kasur segera mengumpulkan warga desanya. "Apakah kalian sanggup menjalankan perintah Kanjeng Sunan Kalijaga, hai warga Desa Kasuran?" "Perintah Kanjeng Sunan siap kami Iaksanakan, Kiai!" jawab warga desa serempak. Warga Desa Kasuran membuang kasur dan guling yang mereka pergunakan. Mereka tidak menggunakan kasur hingga saat ini.
 

Jadi kebanyakan tidur itu tidak baik teman-teman, membuat malas kerja dan bikin hidup sengsara. Pergunakan waktu sebaik mungkin agar hidup bisa semakin berguna dan berwarna.