Kultum: Menjadi Generasi Islami - Habibi Zaidan

Kultum: Menjadi Generasi Islami

Kultum: Menjadi Generasi Islami

Assalamualaikum wr wb

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahi rabbil’aalamiin,
Washsholaatu wassalaamu ‘alaa asyrofil anbiyaa wal mursaliin,
Waala alihi washoh bihii ajma'in amma ba'du.

Tahu tidak yang lagi viral belakangan ini?
Ada anak muda keliling kota.
Membawa arit dan batu bata.
Arit bukan untuk mencari makan sapi.
Melainkan untuk mencari sensasi.
Astagfirullah.. 

Jangan ditiru ya teman teman. Hal semacam itu sama sekali tidak keren dan tidak mencerminkan generasi yang Islami. Generasi Islami adalah generasi tangguh yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai islam dalam kehidupannya. Namun di era yang serba online ini, banyak muslim yang kehidupannya malah jauh dari nilai nilai islami. Contohnya saat makan di kondangan, biasanya pada berdiri apa duduk? Ya benar sekali, sebagian besar makan sambil berdiri. Hal tersebut dianggap lumrah padahal Islam mengajarkan untuk makan sambil duduk, dimulai dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. 

Selain itu, membully orang menjadi hal yang biasa saat ini. Beda pendapat bisa kena komentar pedas. Tutur kata yang santun semakin jarang digunakan oleh generasi muda. Jangan sampai kita terjerumus berbagai hal yang seolah-olah wajar namun sebenarnya itu diluar ketentuan Islam. Nah bagaimana caranya agar kita bisa menjadi generasi yang Islami?

Tips yang pertama adalah Ilmu

Untuk menjadi insan yang Islami maka kita harus punya banyak ilmu terutama ilmu agama. Rasulullah SAW bersabda “Utlubul ilmi minal mahdi ilal lahdi”, tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz sampaikan “Man aroda huma fa’alaihi bil ilmi”. Siapa yang ingin sukses dunia dan akhirat harus dengan ilmu. Banyak jalan menuju ilmu. Bagi kaum milenial tinggal pencet hape saja, maka bisa mendapat banyak sekali ilmu dan informasi yang hangat. Yang penting adalah selalu cek dan ricek kebenaran ilmu yang didapat. Dunia internet itu penuh tipu-tipu sobat. Jangan sampai tersesat di dalamnya. 

Menjaga Waktu

Kedua, Haritsun ‘ala waktiha yaitu menjaga waktu dengan sebaik-baiknya. Generasi Islami adalah generasi yang menghargai waktu. Setiap orang diberi waktu 24 jam setiap harinya. Kalau cuma dihabiskan buat joget Tiktok tentu tiada gunanya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, Audzubillah himinas syaiton nirojim, Bismillahirrahmanirrahim, “Wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr”. Demi masa. Sungguh, manusia dalam kerugian.  Orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa beriman dan menghabiskan waktu untuk kebaikan. Jangan buang waktu untuk hal yang sia-sia sobat. Karena kita harus mempertanggungjawabkan waktu yang telah Allah berikan. Jika ada waktu luang lebih baik buat baca Alquran, hafalan surat, berdzikir, dan lain sebagainya. 

Teman Yang Baik

Ketiga, Mencari bestie yang benar-benar baik. Bestie alias sahabat sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Bisa memberi pengaruh baik maupun buruk.  Rasulullah mengibaratkan teman baik sebagai penjual parfum. Kamu membeli atau cuma di dekatnya maka akan tetap kena harumnya. Sedangkan teman jahat itu ibarat pandai besi. Percikan apinya bisa melukai dirimu dan bau asapnya menyengat tak sedap. Nah, teman yang baik menurut Islam seperti apa sih. Yang jelas dia tidak toksik, taat beribadah, mempunyai akhlak yang baik dan bukan orang yang rakus dengan dunia.  Teman sejati pasti tidak akan mengajakmu klitih atau hal negatif lainnya. 

Jagalah Jempolmu

Keempat, Jagalah Jempolmu. Sebagai muslim sejati, kita harus selalu menjaga lisan kita agar tidak menyakiti orang lain.Jaman now, selain menjaga lisan maka harus menjaga jempol juga. Jempol yang memencet hape terkadang bagai pedang yang bisa membuat orang lain meradang. Sebagaimana hadits Rasul SAW yaitu: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam!” (HR.Bukhari). 

Menjadi generasi yang Islami, tentu saja tidak semudah membuat postingan instagram.
Namun kita harus “Man jadda wa jadda“. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Semoga saja kita selalu diberi jalan kemudahan oleh Allah untuk menjadi generasi yang Islami.  Ihdinas siratal mustaqim. Ya Allah tunjuk kanlah kami jalan yang lurus. 

Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati khazanah. Wakina adza bannar. 

Wassalamualaikum wr wb.