Cerpen: Bunga Tidur - Habibi Zaidan

Cerpen: Bunga Tidur

Cerpen: Bunga Tidur


     

Bono adalah seorang siswa SD kelas 6. Meskipun pintar dia mempunyai kebiasaan yang kurang baik yaitu suka mengantuk dan tidur. Dia bisa tertidur dimana saja, di ruang tamu, di kelas, di perpustakaan dan di setiap tempat yang dia rasa nyaman. Setiap kali Ibunya menyuruhnya untuk belajar, Bono selalu menguap dan akhirnya tertidur di atas meja belajar. Setelah tertidur, sulit untuk membangunkannya. Tentu saja, perilaku ini seringkali membuat ibunya marah.

    Bono memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu karena besok adalah hari wisuda kelas 6. Ia telah menyiapkan baju adat yang akan dikenakannya untuk acara tersebut. Bono berharap dapat bangun pagi agar tidak terlambat dalam mengikuti wisuda. Sebelum tidur, ia menyiapkan jam alarm. "Besok pagi aku harus bangun tepat waktu, tidak boleh terlewat!" gumam Bono.

    Bono beranjak ke tempat tidurnya yang nyaman. Tak lama kemudian Bono sudah terlelap tidur. Waktu cepat berlalu dan pagi telah datang. Bono terbangun dan melihat  jam. "Aduh, aku terlambat!" seru Bono. Dengan terburu-buru ia mandi dan melaksanakan sholat subuh. Setelah itu, Bono mencari orangtuanya di seluruh penjuru rumah, namun tidak ada seorangpun disana. "Ayah, Ibu, dimana mereka? Mungkinkah mereka sudah pergi ke acara wisuda tanpa aku," ucap Bono sambil memakai sandal selop dan mengenakan baju adat.

    "Duh, berarti Ayah dan Ibu sudah berangkat. Lebih baik aku menyusul mereka ke sekolah!" gerutu Bono dalam hati. Ia segera naik sepedanya dan berangkat menuju sekolah. Pagi itu jalan masih sepi sehingga Bono sampai sekolah dengan cepat. Ketika ia memasuki halaman sekolah, ia sangat terkejut karena tidak ada seorang pun di sana, kecuali pak satpam yang sedang berjaga. Pak satpam menyapa Bono, "Eh, kok kamu datang ke sekolah, Bono? Acara wisuda itu diadakan di aula gedung pertemuan di Jalan Parangtritis lho!". "Astaga, apakah benar, pak satpam?" ucap Bono terkejut.

    Bono kemudian memacu sepedanya keluar halaman sekolah, namun saat dikayuh terasa berat. Ternyata sepedanya bocor. "Sudah jatuh tertimpa tangga, malah bocor sepedaku, nah itu ada becak motor, biar cepat aku naik itu saja!". Bono segera menghampiri abang becak yang biasa mangkal di depan sekolah. "Pak, ke aula di jalan Parangtritis ya, buruan, keburu telat!". "Siap nak, ayo segera let’s go!" jawab pak becak dengan semangat.

    Becak motor segera melaju kencang seperti pembalap yang sedang berlomba. Udara pagi yang sejuk membuat Bono terkantuk-kantuk. Kebiasaan buruknya kembali muncul. Bono terlelap di dalam becak yang membawanya menuju tempat wisuda.

    "Sudah sampai nak, wah malah tidur!" kata pak becak kepada Bono. Bono segera membuka matanya yang masih terasa berat, namun kemudian ia sangat terkejut. "Eh, ini tempat apa, Pak?" tanya Bono bingung. Pak becak menjawab, "Kok kamu bertanya begitu? Tadi kan kamu bilang mau pergi ke Parangtritis!" Deburan ombak dan udara segar pantai menghilangkan rasa kantuk Bono. Ternyata, Pak becak salah mengerti tujuan Bono, ia mengira Bono akan pergi ke Pantai Parangtritis.

    Bono gelisah dan bingung, waktu wisuda semakin dekat namun dia malah sampai di Pantai Parangtritis. Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya. Ternyata ada pak Paijo, tetangganya yang sedang berwisata di Pantai Parangtritis. Akhirnya Bono diantar pak Paijo menuju aula tempat wisuda. Ac mobil yang dingin membuat Bono kembali tertidur.

    Beberapa saat kemudian pak Paijo membangunkan Bono, “Bon sudah sampai aula, bangun-bangun!”. Bono terbangun dari tidurnya dan langsung berlari masuk ke dalam aula. Namun, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Acara wisuda ternyata sudah selesai. Kursi-kursi telah kosong dan tidak ada seorang pun di dalamnya. Ketika Bono menoleh ke parkiran, ia melihat bahwa mobil milik Pak Paijo telah pergi. Langit yang sebelumnya cerah mulai berubah menjadi gelap dan udara dingin mulai menusuk kulit. Gedung aula yang tadinya terang benderang sekarang menjadi gelap gulita dan terasa menyeramkan. Dindingnya tampak kusam dan lantainya dipenuhi oleh rumput liar.

    Dengan rasa takut dan panik, Bono berusaha melarikan diri keluar dari aula tersebut. Namun, jalan yang tadinya ia lewati telah berubah menjadi hutan belantara yang luas dan gelap. Bono terdiam, terpana melihat pemandangan yang menyeramkan ini. Kakinya terasa berat sehingga sulit baginya untuk berlari. Bono mengucap dengan lirih, "Astagfirullah, maafkan kesalahanku ya Allah!".

    Samar-samar terdengar suara mendekatinya dari dalam hutan. Bunyi itu semakin lama semakin keras, memekakkan telinga Bono. Suara itu sebenarnya adalah suara jam alarm di kamar Bono yang semakin kencang berbunyi. Akhirnya Bono terbangun dari tidurnya. Ia sadar bahwa semua kejadian yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi. Dia lega bahwa belum ketinggalan acara wisuda.

    Bono bergegas bangun dan mandi. Ia segera menunaikan sholat tahajud. Tak berapa lama adzan subuh terdengar. “Tumben Bon bisa bangun sendiri, takut telat wisuda ya?” ejek ibu sambil menyiapkan sarapan pagi. Boni bersyukur karena kejadian tadi hanyalah mimpi. Ia menyadari bahwa terlalu banyak tidur tidaklah baik. Waktu luang lebih baik diisi hal-hal yang bermanfaat.

    Pagi itu, Bono berangkat ke acara wisuda bersama kedua orangtuanya. Selama perjalanan, Bono mengisi waktu dengan menggambar agar tetap terjaga dan tidak tertidur lagi. Dengan penuh konsentrasi, ia menggambar seekor kucing lucu. Setelah selesai menggambar, Bono menoleh keluar jendela mobil sambil bergumam dengan senyum di wajahnya, "Ini akan menjadi hari yang indah!".

    Namun tiba tiba langit berubah menjadi gelap. Rumah-rumah yang ia lewati menjadi suram dan terlihat tidak terawat. Saat menoleh ke kertas gambarnya, ia sangat terkejut. Kucing yang digambarnya berubah menjadi gambar serigala bermata merah.

    “Oh tidak, ini terjadi lagi!” teriak Bono.

- TAMAT -